Opini

Kemesraan Kapitalis di Lingkungan Kampus

Muh. Aslan Syah

Oleh: Muh. Aslan Syah*

OPINI, EDUNEWS.ID – Kampus merupakan daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas/ akademi), tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung (KBBI,2016). Kata kampus sendiri sangatlah tidak asing bagi semua kalangan, baik itu masyarakat biasa, dosen atau mahasiswa. Kampus biasanya menjadi rumah kedua bagi para mahasiswa, dimana mereka menghabiskan separuh waktunya di lingkungan kampus, kuliah ataukah keperpustakaan.

Hakikat kampus sangat terkait dengan kegiatan akademik, tujuan di buatnya kampus yakni untuk menciptakan manusia-manusia yang ahli pada bidangnya masing-masing. Di Indonesia, misalnya sebelum Indonesia merdeka pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1849 pertama kalinya mendirikan sekolah tinggi ilmu kesehatan demi untuk melaksanakan political ethics. Pada tahun 1851 sekolah tersebut resmi dinamakan sebagai dokter djawa school.

Dalam aspek perkembangan kampus-kampus yang ada di Indonesia, kita bisa kategorisasikan menjadi tiga periode besar, yaitu periode masa kolonial, periode setelah kemerdekaan dan periode setelah era reformasi. Hal yang unik terjadi ketika adanya perubahan corak politik pemerintah, juga akan mempengaruhi policy atau kebijakan kampus.Pada era penjajahan, kampus-kampus dibuat agar selaras dengan kepentingan kolonial, setelah merdeka dibuatnya kampus demi untuk melahirkan ahli-ahli/ ilmuan, dan selanjutnya di era reformasi kampus tidak hanya bertujuan untuk melahirkah ahli-ahli yang sesuai dengankebutuhan pasar, tetapi kampus juga di jadikan sebagai ladang komersial oleh para kapitalis Regional maupun internasional.

Sejalan dengan pemikiran Anthony Giddens, bahwa kapitalisme sendiri dipahami sebagaipraktek akumulasi modal dalam konteks pasar produksi dengan tenaga kerja kompetitif dan bebas. Rasionalisasi pemikiran para kapitalis kampus adalah dengan menjalin kerja sama dengan pihak birokrat kampus, sehingga pihak kampus akan menyediakan tempat bagi kaum kapitalis untuk memasarkan produk-produknya, bahkan kapitalis tersebut bersedia membantu dalam pembangunan gedung kampus yang nantinya mereka juga akan menempatinya.

Beberapa perusahaan-perusahaan kapitalis yang biasa kita temui di kampus-kampus besar di Indonesia, misalnya Bank, Starbucks, Gold’s Gym, Indomaret/ Alfamart, Cafe dan Restauran lainnya, pasar mereka dari kalangan mahasiswa dan seluruh civitas akademika kampus. Para kapitalis kampus biasanya beroperasi di beberapa fakultas-fakultas elit, selain itu mereka juga akan beroperasi di tempat-tempat yang dinilai strategis dan ramai dikunjungi.

Hegemoni Kapitalis Kampus

Perilaku budaya komsumtif, hedon dan meterialis merupakan ciri dari gaya hidup kaum kapitalis, mereka selalu menekan untuk selalu berkomsumtif, dengan cara menciptakan inovasi produk-produk baru yang lebih menarik.

Metodelogi penyebaran simbol-simbol ideologis kaum kapitalis di lingkungan kampus juga dilakukan dengan cara-cara demikian, mereka melakukan hegomoni terhadap seluruh civitas akademika kampus, terutama kalangan mahasiswa tingkat awal, yang masih labil dan mudah untuk dipengaruhi.

Kecenderungan kampus-kampus yang bermain mata dengan kaum kapitalis dapat membentuk stratifikasi sosial di dalam kampus, yaitu kelas elit dan kelas arus bawah. Kelas elit bisa dikatekorikan sebagai mahasiswa yang berasal dari keluarga-keluarga kaya dengan finansial yang kuat, sedangkan kelas arus bawah yaitu mahasiswa dari keluarga petani atau buruh.

Kaum kapitalis kampus tidaklah kesulitan dalam mempengaruhi mahasiswa kelas elit, mereka hanya menjaga relasi dan berusaha menggalakkan hasrat komsumtifnya, dibandingkan mahasiswa arus bawah, kaum kapitalis berusaha menghantui hidupnya dan menciptakan suatu lingkungan kampus yang memaksanya untuk menikmati produk-produk kapitalis.

Pemisahan Tegas Kampus dan Kapitalis

Seperti yang telah saya sampaikan, bahwa hakikat kampus tidak lepas dari kegiatan- kegiatan akademik, juga untuk merealisasikan tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Kampus bukanlah pasar bagi kaum kapitalis untuk menggemukkan segelitintir orang, karena hal itu merupakan penghinaan intelektual luar biasa, pemisahan ini harus secara tegas dilakukan oleh pimpinan-pimpinan kampus, pimpinan kampus harus menghentikan diplomasi dengan para kapitalis kampus, akan lebih bermanfaat jika pimpinan kampus medirikan gedung untuk fasilitas peningkatan akedemik mahasiswanya.

 

Muh. Aslan Syah, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

To Top