Opini

Merawat Nasionalisme dan Kearifan Lokal

Rizal Pauzi

Oleh : Rizal Pauzi*

OPINI, EDUNEWS.ID – Setiap negara memiliki cara tersendiri dalam merawat kecintaan rakyatnya. Kecintaan ini biasanya lebih dikenal dengan istilah nasionalisme. Negara demokrasi seperti indonesia tentu nasionalisme menjadi pembahasan yang sangat penting. Paham radikal dan anti negara bisa menabuh benih dan bersemai di negara – negara demokratis. Hal ini mendorong negara demokratis melakukan banyak program dalam menjaga nasionalisme rakyatnya, sebut saja, upacara pendera, peringatan hari pahlawan, sosialisasi 4 pilar, bela negara dan sebagainya.

Memasuki perbatasan Malaysia – Thailand tepatnya di imigrasi. Kita akan menjumpai tulisan huruf bahasa thai. Begitu pun dengan pegawai dan masyarakat yang antri. Mereka sangat terbatas dalam bahasa inggris, justru sedikit lebih mengerti jika bahasa melayu. Disini pun terlihat beberapa calo menawarkan untuk jalur cepat tanpa antri.

Yang menariknya adalah semua tulisan baik itu kantor pemerintahan, sekolah dan fisilitas umum menggunakan tulisan Aksara Thai. Selain itu, terpampang foto Raja Thailand yang baru – baru ini wafat serta bendera yang dikibarkan disetiap sudut – sudut kota. Memang sesuai tradisi, mereka berduka selama setahun dan harus menggunakan pakaian hitam – hitam minimal 1 bulan pertama bagi rakyat biasa.

Menyusuri kota Songkhla. Kita tak akan menemukan tulisan berbahasa Inggris. Yang ada hanya tulisan dengan huruf Aksara  Thai. Sehingga tak mengherankan banyak orang yang akan kesasar jika kesana.

Bahkan masyarakat disana tidak mengerti bahasa Inggris. Mulai dari masyarakat yang berlalu lalang di pinggir jalan, penjual sampai pada resepsionis hotel. beruntunglah jika ada yang sedikit mengerti bahasa melayu. Entah apa difikiran pemerintah Thailand, sepertinya mereka tak peduli banyak tentang pendatang (tourism) yang konon bisa menghasilkan banyak devisa negara.

Ini berbeda jauh dengan Indonesia, ribuan program dengan menghabiskan anggaran milyaran untuk mempromosikan wisatawan mancanegara. Melengkapi semua informasi dengan tulisan bahasa inggris serta menyiapkan pemandu dengan kemampuan bahasa Indonesia dan inggris saja. Bahkan tak sedikit harus merekayasa tradisi kebudayaan misalnya memindahkan waktu perayaan sampai pada di minta mempertontonkan tradisi ibadahnya.

Walaupun secara statistik penulis tak memiliki data perbandingan,tapi tentunya pengalaman selama kunjungan bisa dijadikan salah satu rujukan

Tapi toh tetap saja banyak mengunjung yang datang ke Thailand. Kawasan wisatanya tetap saja ramai di kunjungi oleh wisatawan mancanegara. Justru uniknya, mereka menyiapkan pemandu mulai dari perbatasan Malaysia – Thailand. Ini bisa menjadi mata pencaharian rakyatnya.

Nasionalisme dan kearifan lokal yang terawat nyatanya tak mengurangi penerimaan devisa negara. Masyarakatnya juga tak tertinggal seperti mitos kaum modernisme.

Olehnya itu, Indonesia harusnya bercermin dari Thailand. Keanekaragaman suku, bangsa dan bahasa harusnya di banggakan oleh Indonesia. identitas bahasa dan tradisi tiap daerah harus terus dirawat dalam bingkai bhineka tunggal ika.

Salah satu contohnya adalah tulisan Lontara. Huruf yang melegenda lewat naskah terpanjang dunia Lagaligo tentu perlu untuk dirawat. Tentunya dengan tetap menggunakannya di ruang – ruang publik. Bahasanya pun harus tetap digunakan.

Berhentilah memaksakan rakyat berbahasa inggris. Cintai bahasa daerah dan kebudayaan kita. Dengan begitu, akan membentuk kebanggaan rakyat yang bermuara pada nasionalisme. Merawat kearifan lokal berarti menjaga Negara kesatuan Indonesia.

Berkunjunglah ke songkla, thailand. Maka engkau akan menemukan nasionalisme rakyat yang tak harus mewah. Tentu bukan alasan sistem kerajaan maupun demokratis yang menghalangi kita mencintai negara kita. Rawatlah negerimu apa adanya, bukan karena ada apa apanya (devisa negara).

 

Rizal Pauzi, Peserta Study Tour Kebijakan Publik (Malaysia – Thailand – Singapura) Pascasarjana Administrasi pembangunan Unhas

To Top